Archive | Agustus 2010

Gunung Sinabung Meletus Pengungsi Capai 10 Ribu Jiwa, Ditampung di 8 Lokasi

Medan – Jumlah pengungsi akibat meletusnya Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mencapai 10 ribu jiwa. Mereka ditampung di 8 lokasi pengungsian. Jumlah pengungsi itu kemungkinan terus bertambah.

“Saat ini tim masih melakukan evakuasi. Truk Pemkab, Kodim, dan polisi dikerahkan untuk mengevakuasi warga dari sekitar lokasi Gunung Sinabung,” kata Kepala Bidang Humas Kabupaten Karo, Jhonson Tarigan, kepada detikcom.

Hal itu disampaikan Tarigan di posko utama bencana gunung meletus Sinabung di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Jl Veteran, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Minggu (29/8/2010).

Selain di Kabanjahe, menurut Jhonson, pengungsi yang berjumlah 10 ribu itu dipecah ke kecamatan lain, yakni Brastagi. “Pendataan masih belum selesai, baik jumlah desa, maupun sistem data. Semua personel yang tersedia dioptimalkan untuk masalah ini,” tandasnya.

Sementara itu, pantauan detikcom dari Desa Sukandebi, Kecamatan Naman Teran, Gunung Sinabung yang meletus pada pukul 01.10 WIB tadi malam pagi ini diselimuti asap. Lava yang menyembur dari puncak gunung kini tidak terlihat lagi.

Cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang. Namun, situasi di sekitar kepundan ada kabut agak gelap. Kabut itu juga menghalangi penampakan gunung secara utuh.

“Biasanya kalau pagi cantik nampak gunung ini. Tapi hari ini masih tak kelihatan. Mungkin asap dari letusan tadi malam, tak tahu lah,” ujar Roni warga setempat. (irw/irw)

Iklan

Hujan Ikan Guyur Kota di Australia

Dunia
Hujan Ikan Guyur Kota di Australia
Sejak 1974, suatu kota di wilayah gersang di Australia kejatuhan banyak ekor ikan
Selasa, 2 Maret 2010, 15:05 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
(VIVAnews/Tri Saputro)
BERITA TERKAIT

* Polisi Diminta Minum Sampai Mabuk
* Simpanse Kecanduan Alkohol, Penonton Senang
* Mau Putus Hubungan? Pakai Saja Facebook
* Studi: Perokok, Berbakat Punya ‘IQ Jongkok”
* Perkenalkan, Anjing Tertinggi di Dunia

VIVAnews – Sepanjang akhir pekan lalu, penduduk suatu kota kecil di wilayah tandus Australia bagian utara mengalami berkah yang jarang terjadi. Kota mereka dilanda hujan ikan.

Laman harian The Telegraph mengungkapkan, dalam dua hari berturut-turut Kota Lajamanu di negara bagian Northern Territory kejatuhan banyak ekor ikan. Bersama dengan air hujan, ikan-ikan itu muncul begitu saja dari langit.

Sebagian besar ikan masih dalam keadaan hidup. Hujan ikan itu baru berhenti Senin, 1 Maret 2010.

Para pakar cuaca di Australia yakin bahwa ikan spangled perch, salah satu jenis ikan air tawar di Australia, tampaknya terhisap ke dalam badai. Mereka lalu dibawa angin kencang sebelum akhirnya berguguran di Lajamanu, kota yang jumlah penduduknya hanya 669 orang.

“Badai membawa ikan-ikan itu naik hingga ketinggian 40 ribu hingga 50 ribu kaki di udara,” kata seorang pakar senior di Biro Meteorologi Australia, Mark Kersemakers. “Saat mereka ikut dalam ‘sistem’ badai, mereka membeku. Setelah beberapa waktu, mereka bebas dari badai,” lanjut Kersemakers.

Ini merupakan kali ketiga dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun di mana Lajamanu dilanda hujan ikan. Peristiwa serupa terjadi pada 1974 dan 2004.

“Biasanya, ikan ada di dalam air. Sekarang ikan-ikan itu jatuh dari langit. Bagaimana kalau sesuatu yang lebih besar jatuh dari langit?” kata Joe Ashley, warga berusia 55 tahun. “Bisa saja besok-besok ada buaya yang akan jatuh dari langit,” lanjut Ashley.
• VIVAnews

HUJAN DARAH DI INDIA

Misteri memang tidak pernah punah dari dunia ini. Kini, mari kita ungkap misteri hujan darah di India ini dengan sains. Anda semua juga bisa melihat video hujan darah India ini di bagian paling bawah!

Inilah penjelasan hujan darah atau hujan merah ini
Lebih dari 500.000 meter kubik air hujan berwarna merah tercurah ke bumi. Pada mulanya ilmuwan mengira air hujan yang berwarna merah itu disebabkan oleh pasir gurun, namun para Ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan, unsur merah di dalam air tersebut adalah sel hidup, sel yang bukan berasal dari bumi !
sel hujan berwarna merah
Menurut ilmuwan setempat unsur merah di dalam air tersebut adalah sel hidup, sel yang bukan berasal dari bumi

Hujan yang pertama jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah selatan India. Bukan hanya hujan berwarna merah, 10 hari pertama dilaporkan turunnya hujan berwarna kuning, hijau dan bahkan hitam. Setelah 10 hari, intensitas curah hujan mereda hingga September.

Hujan tersebut turun hanya pada wilayah yang terbatas dan biasanya hanya berlangsung sekitar 20 menit per hujan. Para penduduk lokal menemukan baju-baju yang dijemur berubah warna menjadi merah seperti darah. Penduduk lokal juga melaporkan adanya bunyi ledakan dan cahaya terang yang mendahului turunnya hujan yang dipercaya sebagai ledakan meteor.

Contoh air hujan tersebut segera dibawa untuk diteliti oleh pemerintah India dan ilmuwan. Salah satu ilmuwan independen yang menelitinya adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi.

Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 km. Pertama kali mereka mengira bahwa partikel merah di dalam air adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab.

Hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 dimana pasir dari gurun sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris. Namun mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yang hidup.

Komposisi sel tersebut terdiri dari 50% Karbon, 45% Oksigen dan 5% unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri. Sel itu memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding sel yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur didalam membrannya.

Namun tidak ada nukleus yang dapat diidentifikasi. Setiap meter kubik sampel yang diambil, terdapat 100 gram unsur merah. Jadi apabila dijumlah, maka dari Juli hingga September terdapat 50 ton partikel merah yang tercurah ke Bumi.

Di Universitas Sheffield, Inggris, seorang ahli mikrobiologis bernama Milton Wainwright mengkonfirmasi bahwa unsur merah tersebut adalah sel hidup. Hal ini dinyatakan karena Wainwright berhasil menemukan adanya DNA dari unsur sel tersebut walaupun ia belum berhasil mengekstraknya.

Karena partikel merah tersebut adalah sel hidup, maka para ilmuwan mengajukan teori bahwa partikel merah itu adalah darah. Menurut mereka, kemungkinan batu meteor yang meledak di udara telah membantai sekelompok kelelawar di udara. Namun teori ini ditolak karena tidak adanya bukti-bukti yang mendukung seperti sayap kelelawar yang jatuh ke bumi.

Dengan menghubungkan antara suara ledakan dan cahaya yang mendahului hujan tersebut, Louis mengemukakan teori bahwa sel-sel merah tersebut adalah makhluk ekstra terestrial. Louis menyimpulkan bahwa materi merah tersebut datang dari sebuah komet yang memasuki atmosfer bumi dan meledak di atas langit India.

Sebuah studi yang dilakukan oleh mahasiswa doktoral dari Universitas Queen, Irlandia yang bernama Patrick McCafferty menemukan catatan sejarah yang menghubungkan hujan berwarna dengan ledakan meteor.

McCafferty menganalisa 80 laporan mengenai hujan berwarna, 20 laporan air berubah menjadi darah dan 68 contoh fenomena mirip seperti hujan hitam, hujan susu atau madu yang turun dari langit.

36 persen dari contoh tersebut ternyata terhubung dengan aktivitas meteor atau komet. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi mulai dari Romawi kuno, Irlandia dan Inggris abad pertengahan dan bahkan Kalifornia abad ke-19.

McCafferty mengatakan, “œkelihatannya ada hubungan yang kuat antara laporan hujan berwarna dengan aktivitas meteor, Hujan merah Kerala cocok dengan pola-pola tersebut dan tidak dapat diabaikan begitu saja.”

Jadi, apakah hujan merah di Kerala berasal dari luar bumi ? Sebagian ilmuwan yang skeptis serta merta menolak teori ini. Namun sebagian ilmuwan lain yang belum menemukan jawabannya segera melirik kembali ke sebuah teori usang yang diajukan oleh ahli fisika Sir Fred Hoyle dan Dr Chandra Wickramasinghe, teori yang disebut Panspermia, yaitu sebuah teori yang menyatakan bahwa kehidupan di bumi ini berasal dari luar angkasa.

Menurut kedua ilmuwan tersebut pada mulanya di luar angkasa terdapat awan gas antar bintang yang mengandung bakteri. Ketika awan itu mengerut karena gravitasi untuk membentuk sistem bintang, bakteri yang ada di dalamnya tetap bertahan hidup di dalam komet.

Ketika komet itu terkena sinar matahari, panas matahari mencairkan permukaan es pada komet, bakteri-bakteri tersebut lolos dan tersapu ke planet-planet terdekat. Teori ini juga didasarkan pada argumen Charles darwin bahwa sesungguhnya bakteri memiliki karakteristis ‘luar bumi’.

TULISAN ALLAH DI KASMIR

Seorang wartawan foto bernama Showkat Nanda, pada Rabu (23/1), berhasil merekam fenomena luar biasa berupa tulisan “Allah” di langit, di atas kota Barramulla, Kashmir Utara. Menurut Nanda, ia sedang menatap langit ketika melihat awan-awan membentuk pola tulisan yang menurutnya sangat unik untuk dipotret, sampai ia menyadari pola awan itu membentu tulisan “Allah.”

Pesawat China Ternyata Jatuh, 43 Tewas

BEIJING, KOMPAS.com – Pesawat China yang terbakar di bandar udara kota Yichun, China, ternyata memang jatuh, bukan karena sudah mendarat dan melampaui landasan pacu, Selasa (24/8/2010) malam. Korban tewas sejauh ini dipastikan sebanyak 43 penumpang.

Mereka ditemukan dari puing-puing pesawat yang jatuh di timur laut China. Kantor berita Xinhua sebelumnya melaporkan, pesawat penumpang China itu “overshot” (melampaui) landasan pacu dan terbakar.

Pesawat itu jatuh ketika berusaha mendarat di kota Yichun di provinsi terpencil Heilongjiang, kata Xinhua. Setidaknya 47 orang diselamatkan dari kecelakaan itu.

Wakil Wali Kota Yichun mengatakan, kebanyakan dari mereka dibawa ke rumah sakit tidak mengalami cedera yang mengancam jiwa.

Pesawat itu berpenumpang 91 orang -termasuk lima anak-anak- dan lima awak pesawat, kata Xinhua mengutip sumber di Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC).

Kecelakaan terjadi tak lama setelah pukul 21:30 (1330 GMT) di dekat Bandara Lindu Yichun, kurang dari satu jam setelah pesawat meninggalkan Harbin, ibukota provinsi, kata Xinhua.

Fenomena Alam Mencairnya Pulau ES di Kutub Utara

Fenomena Pecahnya pulau ES di Kutub Utara. pulau es yang pecah sebagian di gletser peterman greendland tentu saja mengejutkan bagi sebagian orang. mencairnya ES di kutub utara memang tak bisa dihindari karena kian kroposnya bumi ini.
Sebuah pulau es, yang berukuran 4 kali kota Manhatan, dengan tebal setengah dari tinggi bangunan Empire State, telah terpisah dari gletser utama Greenland.

Gambar satelit menunjukan gletser Peterman, yang terletak 1000 kilometer sebelah selatan kutub utara, telah kehilangan seperempat bagiannya. Pulau es tersebut mengandung air yang bisa mencukupi kebutuhan air di AS selama 120 hari.

Para ilmuwan berkata, sulit ditentukan apakah fenomena ini disebabkan oleh pemanasan global. Catatan tentang gletser dan air dibawahnya masih terlalu dini untuk dijadikan bukti.

Namun, terpisahnya es dari Greenland diperkirakan akibat aliran air dibawah gletser tersebut.

Pulau es baru ini memiliki luas 100 meter persegi, dengan tebal lebih dari 600 kaki.

Ratusan gunung es terpisah dari gletser Greenland setiap tahun. Pemisahan pulau es sebesar ini terakhir kali terjadi pada tahun 1962.

Pulau es ini dapat menyatu dengan daratan, kemudian terpecah menjadi bongkahan kecil, atau mengapung menghadang kapal.
Berikut ini adalah video dari Fenomena Mencairnya Pulau ES di Kutub Utara:

HUJAN IKAN DAN KATAK DI JEPANG

Browse » Home » Hujan Ikan di Jepang, Kejadian Aneh 2010 » Berita Dunia » Hujan Ikan di Jepang, Kejadian Aneh 2010
Hujan Ikan di Jepang, Kejadian Aneh 2010
Hujan Ikan di Jepang merupakan salah satu dari sekian banyak Kejadian Aneh yang ramai dibicarakan di tahun 2010. Fenomena hujan ikan di Jepang ini, sebenarnya terjadi pada tahun lalu, tepatnya bulan Juni 2009. Tidak hanya ikan, katak kecil dan berudu juga terjadi ketika itu.

9 Juni, anggota polsek Ishikawa melaporkan di kota Nakanoto, sejumlah ikan kecil yang ditemukan tersebar di daerah pemukiman. Sekitar 10 ikan disisihkan dari pinggir jalan dan dari atap mobil dan ikan ini sejenis ikan mas yang berukuran panjang 3-5 cm .

15 Juni , anggota polsek Miyagi melaporkan sekitar jam 5:00 di kota Taiwa, seorang penduduk 74 tahun,mendengar suara hujan di luar rumahnya. Ia melangkah ke luar dan menemukan sekitar 50 kecebong tersebar di halaman rumah dan di atap. Kecebong-kecebong ini masih basah, tetapi tak satu pun dari mereka yang masih hidup. Menurut wanita tersebut, langit cerah dan tidak ada angin. Ia tidak melihat burung-burung beterbangan di langit.

16 Juni, anggota polsek Saitama melaporkan bahwa pada jam 1:00 di kota Kuki, seorang pria berusia 77 tahun melaporkan telah ditemukan lebih dari 20 bangkai berudu dan ikan kecil di halaman rumahnya. Pria yang tinggal sekitar 1 kilometer dari dekat hutan tempat biasanya gagak bertengger. Ia percaya gagak-gagak itu menjatuhkan berudu dan ikan di halaman rumahnya.

16 Juni sekitar pukul 8:00, anggota Polsek Aichi melaporkan bahwa ada seorang karyawan sebuah perusahaan yang berusia 45 tahun sedang mengemudi melewati kota Chiryu dalam perjalanannya untuk berangkat bekerja, tidak lama kemudian dia mendengar suara sesuatu yang seakan melempari atap mobilnya. Ketika ia tiba di tempat kerja, ia menemukan 25 bangkai kecebong , masing-masing sekitar 5 cm panjang, berhamburan di bagian atas dan sisi kendaraan.

17 Juni, anggota Polsek Toyama melaporkan bahwa pada jam 8:40 di kota Asahi, pekerja berusia 59 tahun di sebuah perusahaan menemukan sekitar 30 kecebong berserakan di jalan di depan rumahnya. kecebong-kecebong ini ketika diukur memiliki panjang sekitar 3 cm panjang dan telah mulai mengembangkan kaki. Cuaca tenang dan sebagian berawan, sehingga tidak mungkin mereka tersapu dalam hembusan angin. Seorang ahli biologi setempat mengatakan bahwa kecebong-kecebong ini mungkin telah mati karena dehidrasi setelah berkeliaran keluar dari sawah terdekat. Pria tersebut percaya bahwa mereka mungkin telah dijatuhkan oleh sekawanan burung gagak.

24 Juni, anggota polsek Yamagata melaporkan bhwa pada jam 4.30 sore,seorang instruktur piano 34tahun di kota Shinjo menemukan sekitar 40 bangkai kecebong yang masih basah di halaman, tepat ketika ia berjalan meninggalkan anjingnya. Si wanita melihat kecebong-kecebong tersebut setelah anjing itu mulai mengendus penuh semangat di tanah halaman luar. Dia menemukan kecebong yang masih basah menempel di hidung anjing. Kecebong-kecebong ini, banyak yang hancur, dan paling tidak dua jam sebelumnya belum ada bermunculan di halaman rumahnya.

Belum ada penjelasan yang masuk akal untuk hujan hewan seperti ini. Meskipun beberapa orang percaya hujan kecebong mungkin merupakan akibat dari gangguan cuaca seperti puting beliung tetapi tidak ada lembaga meteorologi yang telah mengamati kemungkinan adanya angin yang kuat atau kondisi cuaca yang tidak stabil di salah satu daerah di mana hujan kecebong terjadi.

Banyak perselisihan pendapat mengenai penyebab, bahkan ahli lain ada yang mengemukakan mungkin hujan ini karya para pranksters atau tukang iseng , atau bahkan mungkin makhluk luar angkasa yang melakukannya. cueksaja.com

Hujan ikan di Australia juga terjadi baru-baru ini. Sedangkan Kejadian Aneh 2010 di Indonesia antara lain berupa; Meteor Jatuh di Cirebon yang membentuk lafadz Allah, Langit Terbelah di Jogja dan Padang.

Dan kemungkinan masih banyak kejadian aneh lain yang terjadi, namun belum terpublis.